avicena.jpg

Nama asli Avicena adalah Ibnu Sina,Abu Ali al-Husain bin Abdullah (Afsyanah,Bukhara 370H/980M-Hamdan 428H/10370). Beliau adalah Dokter dan Filsuf Islam termasyhur. Di dunu a barat terkenal dengan nama Avicena. Ayah nya adalah pegawai tinggi pada dinasti Samaniah ( 204-395H / 819-1005 M ). Sejak kecil Ibnu Sina belajar menghafal Al -Quran dan ilmu-ilmu agama.Kemudian beliau mempelajari matematika,logika,fisika,geometri,astronomi,hukum Islam,teologi,kedokteran dan matefisika.Profesinya dibidang kedokteran dimulai sejak umur 16 tahun. Terkenalnya Ibnu Sina dimana ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansur,yang merupakan salah satu penguasa Dinasti Samaniah.
Kebesaran Ibnu Sina terlihat dari beberapa gelar yang diberikan orang kepadanya yaitu asy-syaikh ar-Rais ( Guru para Raja) di bidang filsafat dan pangeran para dokter di bidang kedokteran.
Ibnu Sina banyak meninggalkan karya tulis ,termasuk buku saku dan kumpulan suratnya.Kebanyakan bahasa Arab dan sebagian lagi berbahasa Persia. Beberapa bukunya yang terkenal adalah :
1. asy-Syifa ( penyembuhan )
2. al-Qanun Fiat-Tibb (peraturan dalam kedokteran). Buku inilah yang menjadi literatur penting bagi fakultas kedokteran di Eropa
3. al-Isyarah waat-Tanbihat ( isyarat dan penjelasan )
4. Mantia al-Masyriiyyin ( logika timur)
5. Uyun al-hikmah ( mata Air Hikmah)
Ibnu Sina memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamanyya mempengaruhi pandangan filsafatnya. Ketajaman pemikirannya dan kedalaman keyakinan keagamaannya secara simulatan mewarnai alam pikirannya.Ibnu Sina mengacu pada pendahulunya yaitu al-Farabi ia mengakui bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi ( memancar dari Tuhan ). Tuhan adalh wujud al-wujud al- Awal berpikir tentang dirinya lalu dari pemikiran itu timbullah wujud kedua yang disebut akal pertama. Akal pertama ini mempunyai tiga objek yaitu:
1. Tuhan
2. Dirinya sebagai wajib al-wujud
3. Dirinya sebagai mumkin al-wujud.
Pemikiran akal pertama tentang dirinya sebagai wajib al-wujud memancarkan jiwa-jiwa dan pemikiran akal tentang dirinya sebagai mumkin al wujud melahirkan semua langit. Demikianlah seluasnya,setiap akal yang jumlahnya sepuluh itu mempunyau tiga objek pemikiran dan dari pemikiran akal inilah kemudian memancar alam ini.
Baginya alam ini Qadim( tidak mempunyai permulaan dari segi waktu ). Antara Tuhan dan terjadinya alam tidak terdapat kesenjangan waktu. Namun pendapat ini mendapat tentangan keras dari Al-Gazali dalam bukunya Tahafut Al- Falasifah ( kekacauan para filsuf ).
Pemikiran filsafatnya yang lain adalah tentang konsep An-nafs ( jiwa ). Baginya jiwa itu terbagi menjadi tiga yaitu:
1. Jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah) merupakan tingkatan jiwa yang paling rendah dan memiliki tiga daya 1) daya nutrisi (al-ghadiya), 2) daya tumbuh (al-munmiyah) dan 3) daya reproduksi (al-muwallidah), dengan daya ini manusia dapat berpotensi makan, tumbuh dan berkembang biak sebagaimana tumbuh – tumbuhan.
2. Jiwa hewani/sensitive (al-nafs al-hayawaniyah) yang memiliki dua daya 1) daya penggerak (al-mukharikah) dan 2) daya persepsi (al-mudrikah). Pada penggerakn (al-mukharikah) terdapat dua daya lagi yaitu 10 daya pendorong (al-baitsah) dan 2) daya berbuat (al-fa’ilah). Hubungan antara daya pertama dengan daya kedua sebagaimana hubungan daya potensi dan aktus, tetapi keduanya bersifat potensial sebelum mencapai aktualisasinya. Yang pertama merupakan kemauan dan yang kedua merupakan kemampuan. Karena itu al-Ghazali menyebut yang pertama iradah dan yang kedua qudrah.
3. Jiwa rasional (al-nafs al-natiqah). Mempunyai dua daya !) daya praktis (al-‘amilah) dan 20 daya teoritis (al-alimah). Yang pertama berfungsi menggerakkan tubuh melalui daya – daya jiwa sensitive / hewani. Sesuai dengan tuntutan pengetahuan yang dicapai oleh akal teorities. Yang dimaksud akal teoritis adalah al-‘alimah, sebab jiwa rasional disebut juga al ‘aql. Al-‘alimah
Dalam filsafatnya tentang wahyu dari nabi, Ibnu Sina menjelaskan bahwa akal manusia yang telah mencapai derajat akal perolehan dapat mengadakan hubungan dengan Jibril. Komunikasi itu bisa terjadi karena akal perolehan telah begitu terlatih dan begitu kuat daya tangkapnya sehingga sanggup menagkap hal-hal yang abstrak murni.
Seorang nabi menurut pendapatnya dianugrahi Tuhan dengan akal materiil yang meskipun lebih rendah derajatnya dari akal materiil yang meskipun lebih rendah dari derajatnya dari akal perolehan, namun mempunyai daya tangkap yang luar biasa sehingga tanpa latihan ia dapat mengadakan komunikasi langsung dengan Jibril.
gejala kenabian dan wahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, “imajinatif”, keajaiban, dan sosio politis. Totalitas keempat tingkatan ini memberi kita petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak dan arah pemikiran keagamaan.
Akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil, akal intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut tingkatan akal yang terendah adalah akal materiil. Ada kalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang Ibnu Sina diberi nama al hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil semua ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal serupa ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan terdapat hanya pada nabi – nabi.

Perubatan Yunani berasaskan teori empat unsur yang dinamakan humours iaitu darah lendir (phlegm), hempedu kuning (yellow bile), dan hempedu hitam (black bile). Menurut teori ini, kesihatan seseorang mempunyai hubungan dengan campuran keempat-empat unsur tersebut. Keempat-empat unsur itu harus berada pada kadar yang seimbang dan apabila keseimbangan ini diganggu maka seseorang akan mendapat penyakit.
Setiap individu dikatakan mempunyai formula keseimbangan yang berlainan. Meskipun teori itu didapati tidak tepat tetapi telah meletakkan satu landasan kukuh kepada dunia perubatan untuk mengenal pasti punca penyakit yang menjangkiti manusia. Ibnu Sina telah menapis teori-teori kosmogoni Yunani ini dan mengislamkannya.
Ibnu Sina percaya bahawa setiap tubuh manusia terdiri daripada empat unsur iaitu tanah,air api, dan angin. Keempat-empat unsur ini memberikan sifat lembap, sejuk, panas, dan kering serta sentiasa bergantung kepada unsur lain yang terdapat dalam alam ini. Ibnu Sina percaya bahawa wujud ketahanan semula jadi dalam tubuh manusia untuk melawan penyakit. Jadi, selain keseimbangan unsur-unsur yang dinyatakan itu, manusia juga memerlukan ketahanan yang kuat dalam tubuh bagi mengekalkan kesihatan dan proses penyembuhan.
Pengaruh pemikiran Yunani bukan sahaja dapat dilihat dalam pandangan Ibnu Sina mengenai kesihatan dan perubatan, tetapi juga bidang falsafah. Ibnu Sina berpendapat bahawa matematik boleh digunakan untuk mengenal Tuhan. Pandangan seumpama itu pernah dikemukakan oleh ahli falsafah Yunani seperti Pythagoras untuk menghuraikan mengenai sesuatu kejadian. Bagi Pythagoras, sesuatu barangan mempunyai angka-angka dan angka itu berkuasa di alam ini. Berdasarkan pandangan itu, maka Imam al-Ghazali telah menyifatkan fahaman Ibnu Sina sebagai sesat dan lebih merosakkan daripada kepercayaan Yahudi dan Nasrani.
Ibnu Sina juga memberikan ilmu pengetahuan pada zamannya diantaranya yang menonjol adalah ilmu Astronomi. Ibnu Sina menambahkan dalam bukunya al-Magest ( buku tentang astronomi ) berbagai problem yang belum dibahas,mengajukan beberapa keberatan terhadap Euclides dan meragukan pandangan Aristoteles tentang kesamaan bintang- bintang tak bergerak,kesamaan kesatuan jaraknya.
Maka dari itu dalam bukunya Asy-Syifa ia menguraikan bahwa bintang-bintang yang tidak bergerak tidak berada pada satu globe.
Ibnu Sina juga mendalami masalh-masalh fikih dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran.Ia banyak menafsirkan ayat-ayat Al-Quran untuk mendukung pandangan-pandangan filsafatnya.

Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)

Leave a Comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image